Ke Dua Kalinya, Naik Gunung Papandayan

Gue yang (gak usah dijelasin lagi)


Hello Everyone!

     Jadi pekan lalu, gue diajakin Ndis naik gunung Papandayan. Sebenarnya, gue agak ragu gitu buat naik gunung lagi. Jujur, gue anaknya emang gak kuat fisik. Pertama kali naik gunung itu 2 atau 3 tahun lalu gitu dan itu gunung Papandayan. Selang sehari setelah itu, badan langsung kena gejala tipes yang bikin gue nggak masuk seminggu. Iya, seminggu. Tapi karena gue nggak mau terlihat lemah di depan cewek gue. Gue meng-iya-kan ajakan dese buat naik gunung lagi. Karena gue nggak mau kejadian waktu lalu terulang lagi, Ndis minjem alat-alat buat naik gunung. Kayak sleeping bag, matras, kompor, celana dalem. Eh, yang terakhir nggak deng.

     Kami berangkat dari Jakarta berenam orang. Ada Koh Steve, Bang Yan, Bang Varian, Vira dan tentunya gue sama Ndis. Perjalanan dari Jakarta menuju Garut kami tempuh selama kurang lebih 7 jam. Sebuah perjalanan yang cukup melelahkan, mengingat kami pergi di hari Jum'at malam. Keluar tol Cikampek baru kelar macetnya cuy. Sampai di Garut sekitar jam 6. Suasana pegunungan mulai terasa, dinginnya nggak main-main.

Kabutnyaaaaaaaaaaaaa..
     Jadi karena emang udah mulai musim penghujan, di kawasan Gunung Papandayan itu setiap sore menjelang malam hujan. Jadi yaa udah dingin tambah dingiiin. Karena kabut masih menyelimuti pendakian, kami istirahat dulu sambil ngopi-ngopi lucu. Nggak terasa udah jam setengah 12, padahal niatnya jam 10an kami mau naik. Emang udara dingin gini cocoknya tidur dari pada naik gunung. HAHAHAHA

     Singkat cerita, kami naik selama kurang lebih 4 jam. Sebuah kewajaran yang HQQ, mengingat kami jalannya sangat super duper lambat. Sebenarnya nggak bukan karena jalannya yang lambat, beberapa dari kami malah asyik foto-foto di tengah jalan. Jadi jalan 5 menit, foto-fotonya 15 menit. Hmmm.

Panjat terus bosku

     Banyak yang berubah di area pendakian. Bisa dilihat dari foto di atas, 2 tahun lalu masih bebatuan besar-besar yang masih tidak beraturan. Namun kini, sudah lebih rapih, nampak lebih rata. Nggak cuma itu, kalau kalian jeli. Pada lahan parkir sudah di aspal, dulu mah buseng dah. Sedihlah kalo diceritain mah. 😂

Lanjuutt

     Bersuyukur sampai di Pondok Salada nggak banyak yang camping di sini. Dan lagi-lagi dibuat pangling sama infrastruktur di sini. Toilet yang dulunya cuma kayak jamban modern gitu sekarang udah berubah jadi toilet yang lebih baik. Semoga gak ada yang mutusin toilet karena alasan terlalu baik. Oke skip. Karena kami menyewa porter, pas sampai Pondok Salada, tenda kami sudah siap pakai. Udah gitu, dapet tempat yang di saung pula. HAHAHA (naik gunung ter-fancy kalo kata Ndis).

     Waktu menunjukkan pukul 17:00 WIB, kabut mulai turun dari atas gunung. Dan benar kata penduduk setempat kalau sore hari menjelang malam, hujan. Sampai malam kami hanya diam di dalam tenda dibungkus dengan sleeping bag, percis kayak lemper isi daging. Hujan mulai reda, tapi kedengeran suara gaduh dari beberapa orang di seberang tenda sana. Semua sontak kaget, ternyata ada babi hutan yang memang seringkali mengganggu para pendaki. Dengan sigap, para penjaga tenda langsung mengusir babi tersebut. Ngeri juga kan lagi tidur, tau-tau tenda rubuh karena diseruduk babi hutan. 😭

Pagi telah tiba (berasa main werewolf yak)..

     Niatnya kami subuh mau naik ke hutan mati buat liat sunrise, namun apa daya sepanjang malam hujan deras, kami bangun pun agak siang. Setelah sarapan pagi, kami pun segera berkemas supaya setelah dari hutan mati, kami langsung turun gunung. Setelah semalam ada drama babi hutan. Pagi ini ketika mau ke hutan mati, pake salah jalan. Berasa di film Petualangan Sherina. HAHAHAHA 😂

     Kayaknya hutan mati emang spot yang wajib dikunjungi para pendaki gunung Papandayan. Selain pepohonan kering, di sini kalian juga bisa melihat kawah gunung Papandayan yang berada di bawah hutan mati. Buat yang hobi selfie, pasti seneng banget ke sini.
Hutan mati. matinya matimatika

Asap dari kawah gunung Papandayan
Nggak tau kenapa emang perjalanan pulang itu lebih cepet dari pada perjalanan pergi. Menurut artikel yang pernah gue baca, itu karena pas perjalanan pergi itu mata kita melihat sesuatu yang baru dan mencoba mengingat-ingat sesuatu yang baru tersebut. Jadi kinerja otak kita terbagi gitu. Nah, pas perjalanan pulang, otak kita tinggal membuka ulang memori yang sudah kita simpan sebelumnya. Itu yang terjadi ketika turun dari gunung Papandayan. Perjalanan pergi 4 jam, pulangnya cuma 2 jam. HAHAHAHAHAHA ntap soul.

     Setelah sampai bawah, badan udah capek banget, bau keringet. Langsung berendem di pemandian air panas, yang airnya itu air belerang langsung dari kawah gunung Papandayan. Tiket masuk ke pemandian ini 25.000 untuk weekend dan 20.000 untuk weekday. Pas gue kesini, gak banyak pengunjung yang mandi di sini. Serasa punya kolam pribadi cuy.

punggung-able bgt ya
Demikian sekelebat cerita gue ke gunung Papandayan. Dan Alhamdulillah, setelah pulang dari Gunung Papandayan tipes gue nggak kumat. WKWKWKWK.

Kalau ditanya "Lo kapok gak naik gunung dengan penuh persiapan?"
Gue bakal jawab "Ayo naik gunung lagi!"





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

INSTAGRAM FEED